Kamis, 30 Oktober 2014

Ekonomi Kreatif, Kekuatan Baru Indonesia

Perkembangan ekonomi kreatif di Tanah Air menunjukkan kemajuan pesat dan banyak memberikan manfaat di nusantara sehingga diharapkan bisa menjadi kekuatan baru Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu mengatakan bergerak dan bergeliatnya ekonomi kreatif yang terjadi di masyarakat dalam lima tahun terakhir ini menjadikan masa depan yang terukur.

“Kita tak bisa membalik lagi kekuatan ekonomi kreatif ke belakang, karena terus maju dan maju. Ini momen orang kreatif untuk berhasil,” katanya pada acara Salam
Kreatif, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Rabu (14/10) malam.

Pada acara sebuah persembahan untuk insan kreatif ini, Mari mengakui nilai tambah dari industri kreatif sudah dirasakan di hampir semua sektor yang semakin membaik dengan produk-produk kreatifnya, seperti batik dan kain Indonesia lainnya yang semakin dikenal luas.

Selain itu, sektor kuliner, mode, film, musik dan desain juga telah mewarnai geliat ekonomi yang berkembang.

Dasarnya, lanjut Mari, ada pada tradisional, sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dibawa kekinian. Contohnya, tari kecak yang dipadukan dengan orkestra, musik barat.

Seni tradisional yang dibawakan secara kontemporer dengan kekinian akan membuat nilai tambah.

Sumbernya adalah kekayaan kearifan lokal yang menceritakan kekayaan Indonesia sebagai kekuatan yang tak akan terkalahkan selama iklim ini terus berkembang.
“Saya coba visualisasi ekonomi kreatif seperti setitik tinta di atas kertas yang bisa menyerap pelan-pelan dan secara konsisten semakin meluas, berkembang dan berkolaborasi membentuk sebuah lukisan indah. Untuk menuju Indonesia baru, kata kunci ekonomi kreatif ada tiga yakni kolaborasi, kerjasama dan komitmen kepada yang terbaik,” tegasnya.

Pentas Salam Kreatif dengan tema Heart Matters juga ditujukan untuk merayakan era kreatif Indonesia diadakan tepat sebelum masa bakti Mari Elka Pangestu berakhir.

Acara unik ini mengedepankan kombinasi dari manusia, seni dan multimedia serta budaya dan kemajuan teknologi sebagai poros utama perkembangan industri kreatif.

Selain itu, Kemparekraf juga telah menaruh pondasi dalam bentuk fasilitasi insan kreatif Indonesia di kancah global.

Dengan semua ini diharapkan siapapun nahkodanya industri kreatif nasional akan maju dan mengantarkan Indonesia sebagai negara maju.

3 kekuatan Militer Baru Di Asia Pasifik



militer-asia
Ketegangan antara Filipina dan Cina di wilayah Laut Cina Selatan seperti yang terjadi di Scarborough Shoal, memang lampu kuning menuju Perang Perpanjangan tangan (Proxy War) antara Amerika Serikat dan Cina di kawasan Asia Tenggara, atau pada skala yang lebih luas, di kawasan Asia Pasifik.

Amerika kiranya cukup beralasan untuk berbagi kecemasan bersama Jepang dan Vietnam menyusul semakin agresifnya postur militer Cina di Asia Pasifik. Berdasar studi SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute, 2010), China merupakan negara Asia dengan anggaran militer terbesar.

Pada 2000, militer Cina sudah menghabiskan anggaran militer sebesar US$90 miliar dan pada 2010, malah semakin meningkat mencapai US$120 miliar. Berdasarkan data dari sumber yang sama, saat ini Cina memiliki 2,3 juta tentara. Angkatan Daratnya saat ini merupakan kekuatan paling besar di dunia. Pada 2012 tahun ini. anggaran militer Beijing mencapai US$160 miliar.

Sudah barang tentu data-data terbaru dari SIPRI yang kita tahu sangat valid ini, telah memicu kecemasan di kalangan para perancang keamanan nasional Jepang. Maklum, karena baik Cina maupun Jepang kebetulan sama sama masuk deretan negara-negara adidaya baru di kawasan Asia Timur. Maka tak heran bila sebuah laporan dari Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan bahwa kenaikan anggaran militer Jepang yang sedemikian cepat tersebut pada gilirannya bisa mempengaruhi tata tertib regional di kawasan Asia Timur, sehingga memiliki dampak yang cukup membahayakan bagi keamanan nasional Jepang.

Kecemasan Jepang semakin menjadi-jadi ketika beberapa waktu lalu pihak Jepang sempat melaporkan bahwa Cina telah meningkatkan intensitas kegiatan militernya di Perairan Jepang.

Lucunya lagi, para pemegang otoritas keamanan nasional sempat mencemaskan tidak adanya keterbukaan atau transparansi mengenai aktivitas militer Cina di Asia Timur maupun strategi nasional Cina itu sendiri. Tentu saja ini satu sikap yang cukup aneh mengingat pihak Jepang pun pasti tahu bahwa yang namanya fakta-fakta seputar perkembangan dan peningkatan postor militer suatu negara, jelas jelas masuk kategori rahasia negara.

Dalam hal konflik perbatasan antara Cina dan Jepang yang belakangan ini kian menajam, tentunya juga tidak kalah krusialnya dengan ketegangan konflik perbatasan antara Filipina dan Cina di Laut Cina Selatan.

Pada September 2010, misalnya, sempat terjadi ketegangan antara Cina dan Jepang atas Kepulauan Senkaku/Diaoyu yang mengungkap adanya potensi konflik kedua negara bertetangga ini di dalam beberapa bulan atau tahun mendatang. Pada September 2010 itu Tokyo sempat menahan seorang kapten kapal RRC di ibukota Okinawa, Naha, dengan tuduhan kapten kapal Bejing itu melanggar kedaulatan hukum Jepang.

Masalah semakin memanas ketika pihak Beijing kemudian menuntut pembebasannya, dengan melancarkan serangan balik dengan menangkap empat karyawan Fujita Corporation di Provinsi Hebei, China, dan malah dalam lawatan Perdana Menteri Wen Jibao ke New York, ia menegaskan Cina akan mengambil langkah lebih lanjut terhadap Jepang jika Tokyo tidak membebaskan kapten kapal tersebut (BBC News,2010). Menghadapi ofensif Diplomatik Cina, Jepang akhirnya keder juga, dan kemudian membebaskan kapten kapal Cina itu.

Mungkinkah kasus kasus serupa bakal menjadi kasus Beli perang antara Cina dan Jepang sehingga memicu Perang terbuka antara Amerika dan Cina di tahun-tahun mendatang?

Memang belum bisa dipastikan, meski dalam bukunya the Clash of Civilization Dr Samuel Huntington memprediksi akan pecah konflik militer terbuka antara Amerika dan Cina di kawasan Asia Pasifik pada sekitar 2014-2017.

Namun yang jelas, beberapa prakondisi untuk memantik perang terbuka Cina dan Jepang sepertinya sudah tersedia.

Pertama, pada Desember 2010 lalu, Tokyo telah mengumumkan haluan Pertahanan Baru sebagai respons atas meningkatnya anggaran militer Cina dan sepak-terjangnya di kawasan Asia Pasifik. Berarti, ada satu tren terjadinya militerisasi baik di pihak Jepang yang notabene masih terikat pada perjanjian persekutuan keamanan bersama antara Jepang dan Amerika Serikat.

Kedua, sebagai konsekwensi dari haluan baru pertahanan Jepang untuk
mengimbangi kekuatan militer Cina, Jepang memutuskan untuk menjalin kerjasama strategis dengan Amerika Serikat untuk menjamin keamanan nasional Jepang. Dan konsekwensinya, Jepang akan mempersilahkan kehadiran militer Amerika di Jepang(Mainichi Daily News, 2011).

Bukan itu saja. Di bagian lain kawasan Asia Timur, tepatnya di Selat Taiwan, ternyata Cina juga telah mengembangkan armada laut yang diperkuat dengan kapal selam yang memiliki jarak tembak 2100 km sehingga mampu memberlakukan Strategy anti access aerial denial, suatu strategi penolakan dan penangkalan terhadap kehadiran militer AS , sehingga mampu memaksa pasukan marinir AS berada di luar kawasan Selat Taiwan dan Pasifik Barat, jika sewaktu-waktu terjadi aksi militer Cina ke Taiwan.

Dari konstalasi kekuatan militer Cina yang seperti itu, angkatan bersenjata AS akan bisa dicegah untuk memberi dukungan angkatan laut kepada Jepang jika terjadi konflik militer terbuka antara Cina dan Jepang.

Sepertinya kedigdayaan militer Cina belakangan ini dimungkinkan karena kemajuan pesat perekonomian Cina dalam beberapa tahun belakangan ini.

Inilah yang kemudian mendorong berbagai pakar dan think thank di Amerika untuk merekomendasikan adanya persekutuan-persekutuan baru di kawasan Asia Pasifik, dalam rangka menghadang ancaman militer Cina di kawasan ini. Seperti yang dilakukan terhadap Filipina, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, dan bahkan Vietnam, yang pada era 1970-an, merupakan musuh utama Amerika di kawasan Asia Tenggara.

Bahkan seorang pakar strategi dan keamanan nasional Amerika jelas jelas mengumandangkan kecemasannya terhadap perkembangan militer Cina. ’Bagaimanapun AS cemas dan khawatir dengan kebangkitan militer China, selain isu nuklir Iran dan Korea Utara,’’ kata Prof Robert Gallucci di Universitas California Berkeley, pekan kemarin.

Asia: Importir Senjata Terbesar di Dunia

Studi Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan wilayah Asia-Pasifik menyumbang 44 persen impor senjata hasil produksi Eropa. Angka ini merupakan angka teratas dalam lima tahun terakhir.

SIPRI melaporkan bahwa secara global volume perdagangan senjata pada periode 2007—2011 lebih tinggi 24% dibandingkan pada periode 2002—2006. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perdagangan senjata di Asia dan Oceania mencapai 44% dari perdagangan impor senjata di seluruh dunia. Angka itu tentu lebih tinggi dibandingkan dengan hanya 19% untuk wilayah Eropa, 17 untuk Timur Tengah, 11%
untuk Amerika Selatan dan Utara, serta 9% untuk Afrika.

Tidak hanya Cina yang menaikkan anggaran militernya dengan US$100 miliar. Tapi juga Taiwan, Korsel, Filipina, Indonesia sampai Vietnam dan Singapura. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, naik pula anggaran militer mereka dengan ratusan juta dolar per tahun. Para pengamat sampai menyebut ada semacam lomba senjata di Asia.

Sepak-terjang India, sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi negara adidaya baru di Asia Pasifik kiranya penting untuk kita cermati secara seksama dan penuh kewaspadaan.

Menurut data SIPRI, India merupakan importir senjata terbesar pada periode 2007—2011 dengan persentase impor mencapai 10% dari volume perdagangan internasional.

Hal ini diikuti oleh Korea Selatan (Korsel) dengan 6%, Cina dan Pakistan (masing-masing 5%), serta Singapura (4%). Impor senjata India, Korsel, China, Pakistan, dan Singapura mencapai 30% dari volume perdagangan internasional.

“Impor senjata India meningkat menjadi 38% pada periode 2002—2006 dibandingkan dengan 2007–2011,” demikian laporan SIPRI. Dan itu termasuk pengiriman pesawat udara pada periode 2007—2011 meliputi 120 Su-30MK dan 16 MiG-29K dari Rusia serta 20 Jaguar Ss dari Inggris.

Perkembangan pesat postur pertahanan India tentu saja memancing Pakistan sebagai pesaing India di kawasan Asia Selatan, untuk meningkatkan juga postur pertahanannnya.

Karena India menjadi importir senjata terbesar, tetangga yang juga musuh bebuyutannya, Pakistan dengan tak ayal menjadi pengimpor senjata terbesar ketiga. Pakistan membeli pesawat tempur pada periode 2007—2011 yakni 50 JF-17 dari China dan 30 F-16. India dan Pakistan juga mengimpor tank dalam jumlah besar.

“Sebagian besar negara pengimpor senjata kini terus mengembangkan industri senjata mereka. Dengan demikian, itu mempengaruhi penurunan pasokan senjata dari luar,” kata Pieter Wezeman, peneliti senior Program Impor Senjata SIPRI.
Pada 2006—2007 Cina merupakan pengimpor senjata terbesar dunia. Tapi tahun 2011 Beijing hanya menempati urutan keempat. Penurunan impor China dipengaruhi peningkatan industri senjata China yang masif.

Dengan penurunan peringkat China dalam impor, India merebut posisi itu pada 2011. SIPRI menyimpulkan, peningkatan posisi India itu karena faktor Pakistan. Sementara setelah tidak lagi menjadi pengimpor senjata terbesar, China kini terus membuat terobosan.

Di Asia, Bejing kini justru menjadi pengekspor senjata terbesar keenam setelah Amerika Serikat (AS), Rusia, Jerman, Prancis,dan Inggris.

Negara-negara Asia Tenggara dan Cina kini lebih memilih kendaraan dan peralatan militer terbaru serba canggih. Yang mencolok adalah pembelian kapal selam. Malaysia baru saja membeli tiga kapal selam, Indonesia pesan tiga, Vietnam enam dan Thailand berniat membeli empat dari Jerman.

Negara-negara Asia tenggara membeli senjata karena faktor perasaan kurang aman. Vietnam dan Filipina misalnya cemas akan kebijakan maritim yang akan ditempuh Beijing. Di laut China Selatan ada enam pulau Vietnam.

Pesatnya perlombaan senjata di kawasan Asia, bisa dipastikan akan meningkatkan ketegangan militer dan bahkan militerisasi di kawasan Asia Pasifik.
Bagi Indonesia, tiada lain harus mencermati secara sungguh sungguh dan penuh perhatian kebijakan militer Cina dan Jepang yang kian agresif di kawasan Asia Pasifik.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Bangkitnya Ekonomi Kreatif Indonesia

ekonomi-kreatif-indonesia
Menyaksikan bangkitnya anak-anak muda di Indonesia berkreasi dalam mencari nafkah lewat medium internet dengan sasaran perusahaan global dunia, agaknya bisa menyejukkan kalangan elite penyelenggara pemerintahan.

Setidaknya, pemerintah tak perlu pusing menyediakan lapangan kerja bagi anak-anak muda pelaku ekonomi kreatif, yang bergerak dalam skala global.

Banyak anak-anak muda yang basis kerjanya adalah internet. Mereka menerima proyek kerja dari seluruh penjuru dunia mulai dari kerja kreatif pembuatan animasi untuk industri film terkemuka Hollywood, pembuatan komik strip dari penerbit terkemuka di Amerika Serikat, pembuatan logo-logo perusahaan terkemuka di luar negeri.

Kerja kreatif seperti ini dilakukan ribuan anak-anak yang termasuk generasi kreatif masa kini. Mereka inilah yang menyangga kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia.
Sosok-sosok kreatif ini bisa datang dari mana saja, baik Ibu Kota Jakarta maupun daerah-daerah yang jauh dari Ibu Kota seperti provinsi atau kabupaten.

Salah satu contohnya adalah dua bersaudara Arfi'an Fuadi dan M Arie Kurniawan yang tinggal di Salatiga, Jawa Tengah. Mereka ini pantas diberi anugerah karena menjadi teladan yang kreatif. Pemerintah tak perlu repot-repot menyediakan lapangan kerja bagi dua kakak beradik yang berpendidikan sebatas sekolah menengah kejuruan ini.

Lewat kiprah kreatif mereka, keduanya menerima tawaran kerja dari berbagai perusahaan disain rekayasa di seluruh dunia melalui internet yang mengglobal ini. Mereka berdua tak kalah dari para alumni perguruan tinggi bidang rekayasa karena mereka berdua tekun dan fokus dalam kerja kreatif tanpa lelah.

Karena ketekunan dan kreativitas merekalah, maka keduanya belum lama ini dianugerahi juara pertama dalam kompetisi disain tiga dimensi yang diselenggarakan General Elektric dan GrabCAD. Mereka berhasil menyingkirkan kompetitor yang datang dari berbagai negara maju, dari mereka yang bergelar insinyur hingga doktor lulusan universitas terkemuka.

Para ilustrator dan penggambar komik di Indonesia pun ada yang bekerja dengan industri komik terkemuka di dunia, yang memproduksi komik terkemuka seperti Superman, Batman dan Spiderman.
Disainer-disainer grafis muda kreatif lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang bekerja untuk pembuatan logo dan simbol perusahaan-perusahaan multinasional di luar negeri pun mulai banyak.
Salah seorang di antara mereka adalah Tika Maniar, yang lulus dari Program Studi Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta pada 2009. Bersama suaminya, dia memilih bekerja menciptakan logo-logo untuk perusahaan internasional dari seluruh penjuru negeri. Berpuluh karya pasangan suami-istri muda itu digunakan oleh perusahaan-perusahaan internasional yang berproduksi dalam segala macam barang dan jasa.

Dengan cara kerja semacam itulah, keduanya ikut dalam menyumbang lahirnya para pekerja ekonomi kreatif di Tanah Air. Merekalah generasi pekerja ekonomi kreatif yang sangat diharapkan oleh para pemimpin di negeri ini.

Dukungan terhadap bangkitnya ekonomi kreatif di Tanah Air pernah dicanangkan tahun lalu dalam kegiatan promosi yang dikemas lewat program Indonesia Creative Power (ICP). Kegiatan yang berlangsung di Epiwalk, Jakarta itu mengusung tema "Yang Kreatif, Yang Berdaya Saing".
Acara ini dimaksudkan menjadi ajang kreatif terbesar dengan hadirnya para pelaku kreatif yang berbicara dan berbagi wawasan serta pengetahuan untuk memberikan inspirasi ide kreatif bagi masyarakat luas.

Kegiatan itu juga merupakan bentuk nyata dari dukungan pemerintah terhadap ekonomi kreatif. Melalui kegiatan ini, masyarakat diberikan ruang untuk mengekspresikan karya kreatifnya.
Ekonomi kreatif sangat penting bagi Indonesia dan dunia karena perkembangannya yang pesat. Menurut penelitian terbaru UNESCO dan UNDP, bukan hanya dampak yang besar terhadap pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan nilai ekspor, ekonomi kreatif juga berkontribusi penting terhadap kesejahteraan dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengharapkan masyarakat dapat melihat dan merasakan langsung kemajuan konkret dari ekonomi kreatif Indonesia.
Pertumbuhan yang cukup signifikan dari sektor industri kreatif, tentunya menjadi pendorong yang menggembirakan bagi pemerintah untuk terus memberikan dukungan.

Angka sementara pencapaian ekonomi kreatif 2013 (data BPS, statistik ekonomi kreatif 2013) menyatakan sektor ini pertumbuhannya mencapai 5,76 persen, di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,74 persen. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia mencapai Rp 642 triliun, atau 7 persen dari angka nasional.

Sub-sektor ekonomi kreatif yang memberikan sumbangan yang terbesar adalah kuliner dan fashion dengan nilai masing-masing Rp 209 triliun (32,5 persen) dan Rp182 triliun (28,3 persen).
"Pertumbuhan ekonomi kreatif saat ini berada di atas pertumbuhan rata-rata nasional. Kenaikan juga diperlihatkan dari nilai PDB Ekonomi Kreatif sebesar Rp 642Triliun atau naik 7 persen dibanding tahun sebelumnya," tambah Mari seperti dikutip Antara.

Sudah pasti nagka-angka yang disebutkan Mari itu belum menyangkut perolehan pendapatan yang diraih oleh anak-anak muda yang bekerja secara kreatif mandiri seperti dilakukan oleh Tika Maniar, Arie Kurniawan, Arfi'an Fuadi dan ribuan anak muda kreatif lain.
Mari Pangestu menegaskan, para pekerja kreatif yang tersebar di seluruh penjuru nusantara perlu dipertemukan sehingga lahirlah komunitas kreatif.

Oleh sebab itu, dapat dimengerti jika kegiatan seperti ICP bukan ajang pamer atau bazaar, melainkan sebuah acara yang dikemas untuk mempertemukan orang dan komunitas kreatif untuk menciptakan kolaborasi dan jejaring.

Acara yang menggandeng 17 Kementerian dan Lembaga ini dikemas dalam berbagai kegiatan, yaitu pameran, konvensi, seni pertunjukan, anjungan dan aneka lomba diharapkan akan dapat membuka wawasan dan menambah pengetahuan mengenai ekonomi kreatif yang nantinya akan memperkuat gerakan masyarakat untuk terus mengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Menurut sumber Kementerian Pariwista dan Ekonomi Kreatif, seluruh kegiatan ICP diciptakan dengan kesan Kota kreatif, dimana upaya pengembangan kota kreatif merupakan menjadi salah satu fokus pengembangan ekonomi kreatif Indonesia. Kegiatan itu didorong oleh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun ini, dengan memilih Yogyakarta, Solo, Bandung dan Pekalongan sebagai kota kreatif yang akan diajukan ke UNESCO.

Dengan semakin banyaknya pekerja ekonomi kreatif di Tanah Air, kebangkitan ekonomi kreatif di masa mendatang kian menjanjikan dan situasi ini akan disyukuri kabinet mendatang karena pemerintah tak perlu pusing menyediakan lapangan kerja bagi tenaga kreatif sekaligus inovatif.

RESOURCE : KOMPAS.COMhttp://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/08/24/152859726/Bangkitnya.Ekonomi.Kreatif.Indonesia